Dimas
Dimas Seorang manusia yang hobi menulis

MacBook M1, Pilihan Besarku Tahun Ini.


Setelah sekian lama berpikir untuk membeli sebuah laptop atau PC sebagai pelengkap device yang kumiliki, akhirnya… terbelilah MacBook Pro M1 second. Hampir triwulan kulalui dengan rasa bimbang untuk meminang satu laptop ini.

Satu tahun lalu aku juga terpikir untuk memilikinya tapi tidak jadi, mengingat belum adanya urgensi sehingga aku memutuskan untuk membeli iPad Pro M1. Aneh, bukan? Tapi karena segmented dan utility-nya berbeda, aku merasa keputusan itu sudah tepat. Kenapa? Karena saat itu aku merupakan seorang kasir bank yang tentunya bekerja secara monoton di tempat itu saja dengan PC yang sudah disediakan.

Sekarang ini aku sudah memilih melangkah menjadi marketing, pekerjaanku sering mobile yang pada dasarnya tidak memerlukan laptop juga. Tapi setelah beberapa waktu aku jalani dalam masa training, rasanya aku memerlukannya. Hal-hal remeh yang dulu bisa ditangani dengan iPad, sekarang terasa perlu untuk di-upgrade.

Maka terbelilah MacBook Pro M1 dengan segala pertimbangan, termasuk pilihan untuk mengambil M2 series atau ke atasnya yang tentunya lebih baru dengan form factor yang lebih baru. Di samping sisi harga yang lumayan berbeda, aku merasa M1 sudah lebih dari cukup. Andai saja iPad Pro M1 bisa diberikan akses ke macOS, aku rasa tidak ada alasan untuk membeli laptop.

Baru beberapa waktu aku memiliki MacBook ini dan belum banyak yang kukerjakan dengan laptop ini. Sama halnya dengan iPad Pro yang sudah kumiliki dari setahun lalu, belum banyak hal yang bisa kuciptakan dengannya. Sungguh ironi memang karena aku merasa memerlukannya untuk hal kreatif. Aku mulai dengan menulis artikel dan video mengenai pembelianku dengan MacBook Pro ini.

Untuk sementara aku mengambil kesimpulan jika tidak ada penyesalan mengenai pembeliannya. Keluaran tahun 2020 tapi masih mendapatkan dukungan software hingga sekarang. Dan jika sudah tidak ada dukungan nantinya, bukan berarti tidak bisa terpakai. Penggunaan Mac ini cenderung lebih bebas dibandingkan saat menggunakan iPhone atau iPad. Aku sendiri memiliki pengalaman dalam penggunaannya dengan MacBook Air 2011 dan 2015 yang tetap bertahan meski tanpa dukungan software. Bahkan MacBook Air 2015 yang dulu kupakai, masih bertahan di tangan orang tuaku.

Selain macOS, Windows sekarang juga sudah mulai mengembangkan OS mereka ke ARM base. Tinggal ganti OS mungkin? Apalagi Linux. Tapi itu hanya alternatif jika suatu saat nanti Apple menghentikan dukungan software untuk M1 series ini. Yanggg… kita tidak tahu sampai kapan itu.

Dari sisi baterai aku sangat menyukainya, sungguh awet apalagi dalam posisi sleep. Performa? Di atas kertas tertinggal sedikit dengan MacBook murah terbaru, MacBook Neo. Tapi melihat berbagai review, MacBook Pro M1 ini masih sangat layak untuk digunakan bahkan untuk video editing dan sedikit workflow yang agak berat.

Oh iya, aku awalnya sedikit tertarik dengan MacBook Neo, tapi melihat harga yang masih di atas 10 juta, aku mengurungkan diri. Layar biasa, keyboard non-backlight, serta USB-nya yang masih 3.0 dan 2.0. Yang jika kita tambah sedikit budget-nya, bisa dapat MacBook Air M2 dengan form factor layar yang baru, keyboard backlight, speed USB yang lebih kencang, serta chipset yang lebih perform juga.

Jadi inilah sedikit cerita mengenai pembelian besarku tahun ini, MacBook M1. Semoga aku bisa tetap konsisten menciptakan berbagai hal kreatif.


Dimas
Dimas  Seorang manusia yang hobi menulis

Komentar

Video Terbaru